Juli 2005


Uncategorized30 Jul 2005 03:01 pm

Tahu Gimbal …. !!!

Om Nukman, ngajak makan tahu gimbal, salah satu makanan khas Semarang. Aku jadi ingat rambut gimbal, rambut panjang ga disisir, ga pernah kramas, awut-awutan …. Sambil nahan bayangan macem-macem, aku ikut aja … wong belum lihat secara langsung apa itu tahu gimbal.

Jalan menyusuri Simpang Lima, ketemu warung lesehan tahu gimbal di depan gedung telkom. Pesen 6 porsi pedesnya standar (rombongan ceritane). Minum teh botol pake es.

Setelah disajikan, aku liat-liat itu tahu gimbal … Ooo macam tahu kupat ato tahu gejrot kalo di Magelang :)

Uncategorized28 Jul 2005 07:03 am

Aku dah lupa kapan daftar formulir dapet CD gratisan dari [www.ubuntu.com], tiba-tiba tadi siang [Mbak Sapta] ngasih seonggok besar bungkusan. Sambil mengucapkan terima kasih, dalam hati bartanya-tanya, apa yaa isinya kok ukuran paket gede ?

Setelah dibuka : Hah …. !!! berpuluh-puluh keping CD isinya :o, gilak banyak banget ! Setelah diurai isinya terdiri

  1. CD Version 5.04 for AMD64/EM641 = 9 buah
  2. CD Version 5.04 for Intelx86 = 10 buah
  3. CD Version 5.04 for Power PC = 8 buah
  4. Total = 27 CD, edan men, okeh tenan !

Buat temen-temen yang mungkin bisa memanfaatkan CD-CD tersebut silahkan datang ke tempat nongkrong saya di [Warnet Zenith], Jl. Kartini no. 1-B Sagan Yogyakarta, 08132 8484 289.

Uncategorized25 Jul 2005 02:53 am

matane

matanee !!!

Uncategorized21 Jul 2005 07:24 am

Foto ini ada, jasa baek [dicambem@yahoo.com], terima kasih banyak yaa :)

Uncategorized18 Jul 2005 07:13 am


Kemaren dapet sms dari [Pak Sakatel] dan email dari [Pak Abdi] yang menanyakan cara memasang link foto menuju friendster seperti di [blog bahtiarnews].

Perhatikan skrip di bawah ini:

<a href="http://bahtiar.blogs.friendster.com" target="_blank">
<img src="http://images.friendster.com/images/friendster_logo1.gif" border="0" width="100">
<br>
<img src="http://photos15.flickr.com/21544344_14a6ee50cf_m.jpg" border="0" width="100">
</a>

Penjelasannya :

  • Warna merah itu alamat url Friendster Anda
  • Warna biru itu alamat url tulisan Friendster
  • Warna ijo itu alamat url foto Friendster Anda

Jadi kopi skrips di atas ganti dengan url-2 Anda kemudian paste di web atau blog Anda, gampang too …. :)

Uncategorized15 Jul 2005 07:12 am

HOTainment - Resensi - Detik

tanggal: 13/07/2005 12:57 WIB

Kritis, berani dan jujur. Begitulah sosok seorang pemuda di awal tahun 1960-an, Soe Hok Gie. Dalam pandangannya, Presiden Soekarno adalah lanjutan dari pada raja-raja Jawa. Beristri banyak dan mendirikan keraton-keraton dan lain-lain. Tajam!

Diangkat dari buku ‘Soe Hok Gie: catatan seorang demonstran’, Mira Lesmana dan Riri Riza menuangkan dalam versi layar lebar dengan interpretasi sendiri. Tak menyeluruh mengikuti naskah bukunya, mereka mengambil garis besar buah pikir dan kehidupan Gie yang cukup kompleks dan diproses untuk sebuah tontonan komersil.

Dan itu tak mudah. Setting cerita di tahun 1960-an cukup sulit dicari. Akhirnya, Semarang menjadi lokasi syuting utama yang dianggap sangat dekat dengan penggambaran Jakarta kala itu. Mobil-mobil yang berseliweran di dalam film tersebut, juga dengan penuh perjuangan untuk mendapatkannya. Selain pinjam, ada juga yang direnovasi kanan-kiri agar mendekati mobil a la tahun 1960-an.

Hasilnya, cukup memuaskan. Layak menjadi tontonan bagi siapa pun yang berkesan dengan pemikiran orisinil seorang Gie dan mencari tontonan alternatif di tengah maraknya film bergenre remaja dan horor.

Mengintip Sosok Gie Dalam Film

Sejak usia 15 tahun, Gie yang duduk di bangku SMP sudah mulai menggoreskan kesehariannya dalam sebuah buku. Inilah awal pembuka film yang harus menjalani proses produksi selama tiga tahun. Suara Nicholas Saputra yang memerankan tokoh Gie, memperkenalkan dirinya.

Saya dilahirkan pada tanggal 17 Desember 1942 ketika perang tengah berkecamuk di Pasifik. Kira-kira pada umur lima tahun saya masuk sekolah Sin Hwa dan seterusnya.

Gambar dimulai dengan keresahan masyarakat akan revolusi di tahun 1957. Tembok-tembok menjadi sasaran inspirasi mereka atas keinginan akan perubahan yang cepat menuju perbaikan hidup yang layak. Sosok Gie, yanga bercelana pendek dan berkaos oblong, menjadi saksi mata akan ketidakpuasan sebagian bangsa Indonesia kala itu.

Walau terbilang masih cukup muda, Gie sudah memiliki pemikiran-pemikiran yang tak terbendung. Jika ada yang tak berkenan dan salah menurut pandangannya, ia tak segan-segan membantah. Ia berani mengoreksi gurunya yang mengatakan Chairil Anwar adalah pengarang prosa Pulanglah dia si anak hilang. Gie yakin pengarangnya adalah Andre Gide, seorang sastrawan yang bukunya sudah dilahapnya dan Chairil hanyalah penerjemah. Sang guru tadi tetap ngotot akan pendapatnya. Tak ada yang mengalah, Gie dipaksa mengulang kelas. Dan itu kembali diprotesnya.

Sejak SMP, Gie memang sudah haus dengan dunia sastra. Buku karya Spengles, Amir Hamzah, Chairil Anwar dan Shakepeare sudah dicernanya dalam otak. Namun itu juga dikritisinya habis-habisan. Misalnya saja kisah legendaris ‘Romeo and Juliet’. Romantisme yang tertuang di dalamnya dianggap tak masuk akal dan menjemukan.

Dengan alur cerita maju, Riri Riza berhasil menuangkan dengan baik peralihan Gie dari ia masih bercelana pendek hingga bercelana panjang. Keterangan waktu yang penting di film ini menjadi pembuka babak penting kehidupan Gie. Dari SMP menginjak SMA, Gie diperankan oleh Jonathan Mulia. Saat ia menginjak bangku kuliah di Universitas Indonesia pada tahun 1962, sosok Gie dewasa beralih ke Nicholas Saputra. Tampak ‘rapi’, wajah Gie kecil dan Gie dewasa cukup memiliki kemiripan.

Tak semua tokoh yang ada dalam film Gie ini pernah ada. Misalnya Shinta dan Ira. Dua wanita yang digambarkan dekat dengan Gie itu hanyalah nama yang diciptakan. Pujaan hati Gie sesungguhnya bernama Maria. Dalam kenyataannya, Gie tak bisa memiliki Maria karena keluarganya tidak setuju.

Diam menjadi kekuatan karakter sosok Gie. Pada nyatanya, menurut Riri, Gie memang sangat pendiam. Menurut pengakuan Riri yang sempat mewawancara Arif Budiman, kakak beradik itu pernah tak bicara selama 10 tahun hanya karena mempertahankan pandangan masing-masing. Dan syukurnya, Nicholas akhirnya berhasil melepas karakter ‘jaim’ Rangga di Ada Apa dengan Cinta dan bermain baik mulai di pertengahan film. Sosok Gie yang diam, dewasa, memiliki idealisme tinggi, tampak dikuasai olehnya. Bahkan dari cara menirukan jalan Gie yang sedikit ‘kemayu’.

Menjadi bumbu penyegar, tak lupa film ini diselipkan kisah romansa sang demonstran di tengah-tengah kesibukannya membagi pemikiran-pemikiran di kampusnya. Gie yang kaku, harus menahan rasa sukanya pada Ira, teman seperjuangannya di kampus. Kendati begitu, ciuman pertamanya bersarang di bibir Sinta, seorang wanita yang pada akhirnya digambarkan menyerah pada kekayaan material. Dan itu tak dimiliki Gie.

Namun hidup terus berjalan untuknya. Ia makin kritis kepada pemerintah yang mulai bertindak sewenang-wenang menaikkan harga. Hatinya miris melihat rakyat yang mengantri demi mendapatkan kebutuhan pokok. Dan buah pikirnya menjadi sajian koran-koran terkemuka sekaligus menampar pemerintah. Akibat perbuatannya itu, ia mulai dicari-cari ’seseorang’ untuk ‘diamankan’.

Hati Gie semakin terpaku melihat teman seperjuangannya mulai melupakan keidealisannya. Mereka menduduki bangku parlemen dan mulai mengecap enaknya berbahagia di atas penderitaan rakyat kecil. Gie pun mulai menarik diri dari keterasingannya. Di puncak Semeru, 16 Desember 1969, sang demonstran merasakan sesaknya menghirup gas beracun. Sehari menjelang usianya ke 27 tahun, Soe Hok Gie
yang enggan berganti nama menghembuskan nafas terakhir disaksikan sahabat karibnya, Herman Lantang.

Catatan Harian Soe Hok Gie: Senin, 22 Januari 1962

‘Seorang filsuf Yunani pernah berkata bahwa nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda dan yang tersial adalah umur tua. Rasanya memang begitu, bahagialah mereka yang mati muda.’

Saksikan Gie mulai 14 Juli 2005.

Uncategorized15 Jul 2005 04:34 am

Kagem temen² PA’98* yang mampir di blog ini, ada undangan pernikahan :

USWATUN KHASANAH, S.TH.I. (Kulonprogo)

dengan

AHMAD RIFAI, S.KOM. (Brebes)

Hari : Rabo

Tanggal : 20 Juli 2005

Pukul : 10:30 WIB

Tempat : Klajuran Tanjungharjo, Nanggulan, Kulonprogo

Nb.

  • HP Uswah : 085228113774
  • Temen-temen yang pingin ikut rombongan kumpul jam 9:00 di kost Umi Salamah (081578171353)
Uncategorized10 Jul 2005 11:47 am

Kemaren siang waktu lagi enak-enak’e dolanan layangan ono miskol ping pisan soko nomer friens, trus beberapa menit kemudian diikuti sms dari nomer tersebut :

Hallo Pak Bahtiar, apa kabar ? aku baru aja buka web Bapak*. Pingin nanya kode skrip untuk SMS Ticker Indosiar apa yaa ? Bisa dikirim ke email saya di alumni—–@email.com, 0888172—-, 9 Juli 05, 14:16:04 wib

*) Wah wes dadi Bapak yoo aku …..

Aku jawab di sini aja yaa … mergo pulsaku entek …:(

  1. Skrip kode tersebut pertama aku ambil langsung dari servernya di Situs Indosiar*, kemudian klik menu View - Open Source, kopi kode skrip setelah kata “SMS TICKER” dan paste di halaman html kamu :).
  2. Bila server Indosiar lagi don, cara yang sama bisa dilakukan pada situs ku*.
  3. Klo lebih cepet lagi kopi skrip di bawah ini dan paste di halaman html kamu
    <iframe id=nt name=nt marginwidth=0 marginheight=0 frameborder=0 scrolling=no
    src=http://news.indosiar.com/sms_ticker.htm?w=200&h=140
    width=200 height=140></iframe>

Kalo panjenengan belajar dikit tentang iframe, tentu ga heran dengan kode di atas, bahkan bisa diterapkan untuk situs-situs lainnya … dan jadi hebat :), ok selamat mencoba yaa … :)

Uncategorized04 Jul 2005 11:39 pm

Tadi pagi waktu ngecek nomer HAPE lawasku (0815 6819 252) muncul sms dari Ahmad “Popeye” Syafi’uddin yang isinya :

Ass…jdwl saya tampil di TPI hari ini (4 Juli) jam setengah 3. Mohon dukungan SMS ke DAI DHANI. Nomor pengirimannya ke 6288. Acaranya sc lsg, by Syafi.
+6281584181560.08:54:44

Berkerut keningku, kok “DHANI” padahal nama aslinya Ahmad Syafi’uddin panggilannya Popeye ….???

Siangnya datang sms dari Iim Primayanti :

Pak, Popey ikut DAI TPI nanti lihat di TPI jam 14:30 jangan lupa beri dukungan.
Ternyata tidak hanya AA yang ikut tapi Popey juga, tadi aku lihat jelas di TPI Foto Popeye

+628882791616. 13:57:21

14:25 aku menuju kamar temen di belakang, he he he … aku ga punya TIPI hanya ada radio mini warisannya temen yang lulus kuliah :). Tepat 14:30 Kontes DAI TPI dimulai dengan lagu rohani yang dibawakan oleh Roni Waluyo - Ex Trio Libles - aku lali judul lagune opo …. Acara dipandu oleh Syahrul Gunawan (artis) dan Hafidz (Juara API = akademi Pelawak Indonesia). Penilaian dewan juri melibatkan para mu’alimin seperti : Kang Jaka Bimbo, Dr. Anwar Sanusi, dan Ustad Wafiudin, MBA.

Kontestan pertama tampil sdr. Igos dari Jogjakarta berceramah dengan kalemnya … Kontestan kedua dipanggil dengan nama Ustadz Dani … aku pun melihat tanpa kedip muka kontestan ini. Ternyata benar Popey ! Ahmad Syafi’uddin ….! dengan jas berselendang kain putih dan bawahan sarung warna krem ia melangkah mantap menuju mimbar … “Assaalamua’alaikum warahmatullahiwabarakatuh … ” salam dan nada suaranya memang khas milik Popeye …

Materi ceramahnya berkisar tentang “CINTA”. Aku reka-reka menghubungkan tema tersebut dangan nama depanya “Ahmad”. Melintas teringat sosok personal salah satu grup DEWA : AHMAD DHANI …mungkin itu dia pake nick SMS : DAI DHANI … :). Aku belum melihat kelebihan dan kekurangan dia dibanding kontestan lain, karena ia muncul di urutan ke-2 … urutan yang masih cukup awal dari 8 kontestan semuanya. Sebagai wujud persahabatan waktu sama-sama di Jogja, kuketik di papan HAPE ku : DAI DHANI send to 6288 … lumayan bok @ Rp.2.000,-

Di akhir acara, saat pengumuman 4 orang yang berhak lolos maju ke 20 besar, DHANI-pun lolos …. !!! cukup mendebarkan karena ia dipanggil paling akhir … :). Ok, Sodara Ahmad “DHANI” Popeye S.Th.I, aku dan temen-temen PA’98 mendukung terus langkahmu di kontes selanjutnya …. “SELAMAT YAA …..”

SMS yang masuk di HAPE ku selama kamu tampil dan sesudahnya

  1. Noname : Saksikan & dukung SMS, untuk kwan qta Popeye dlm audisi DAI TPI. Hari ini mulai jam 14:30. Ketik : DAI DHANI krm ke 6288 (hari ini juga langsung eliminasi) thanks +6285218409716. 14:39:01
  2. Nunung / Osteo Hasanah / PA1 99 : Be, popeye ikutan dai tpi yaa, sms be, biar menang, sekarang, live di tpi lo, i mo nonton .. seru ga yaa ..:> +628164898232. 14:39:45
  3. Ummi Salamah : Mbah, aku Umi, cepet liat TPI Popey ikut kontes DAI, sekarang +6285228300694. 14:40:00
  4. Iim Primayanti : Gmn Pak komentarnya Dhani td di TPI ? ALhamdulillah Popey masuk 20 besar. Aq sampek terharu lho. Merinding bahagia sekali. Smg sukses yaa. Jangan lupa dukung terus +628882791616. 18:09:04

NB. Buat temen2 yang ingin kontak dengan AA ini nomer HAPE-nya : 0812 1693 7928

Uncategorized03 Jul 2005 03:41 pm

Klo besuk istriku aku poligami dengan banyak vespa, cemburukah ?

Tadi pagi menjelang siang, sekitar jam sebelasan sepulang nganterin *Pito* jaga Gorilla Langka di FKY dapet sms dari *Mas Kere Kemplu* bunyinya kek gini :

“Bc kompas hr ini hal 33, jangan yg online yaa … rasanya beda”

Aku penasaran, jane isine opo too ? Aku metu nang kios ngarep golek Kompas Cetak. Tuku regone rongewu petangatus. Bareng dibuka ternyata isine :

  1. Berskuter, Kami Bersaudara
  2. Sayang Anak dan Istri, Vespa Juga
  3. KILAS HOBI

Lumayan bisa tuk nambah pengetahuan bagi Semok Biruku. Waktu sercing neng Kompas mung nemu artikelle tok, kok ra ono gambare seng keren iku …. :( mungkin ada pembaca yang bisa menemukan di link mana Kompas menaruh gambar-gambar Vespa tersebut ….?


BERSKUTER, KAMI BERSAUDARA

Hobi dan Komunitas

Oleh: Frans Sartono

Jika sempat berkeliling Jakarta pada akhir pekan, Anda mungkin akan berpapasan dengan konvoi pengendara skuter. Mereka boleh jadi adalah para anggota klub penggemar skuter yang sedang menuju tempat “mangkal” masing-masing.

Tengoklah kawasan sekitar Monas. Di sana berkumpul keluarga besar Vespa Monas Club. Lihat juga di bilangan Jalan Mahakam, Jakarta Selatan, tempat anggota Jakarta Vespa Club berkumpul.

Daftar tempat mangkal menjadi panjang karena di wilayah Jabotabek ada sekitar 80 klub penggemar skuter dengan jumlah anggota lebih dari 4.000 orang. Sebagian dari klub itu menginduk pada Ikatan Vespa Indonesia (IVI).

Sekadar menambahkan, tengok juga di depan Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Di sana bergerombol kelompok Independent Scooter Taman Ismail Marzuki (ISTIM). Di taman lain, kali ini di sekitar Taman Makam Pahlawan Kalibata, berkumpul Brandal Scooter. Ada pula penggemar skuter yang kebetulan bernaung pada perusahaan sama seperti Vespa Owners Group (VOG) yang suka mangkal di depan kantor mereka di Palmerah Selatan.

Jangan lupa pula mampir ke kawasan di depan Masjid Raya, Tangerang, Banten. Di sanalah anggota Budavest berdiri. Budavest adalah singkatan dari Budak Vespa Tangerang yang kini beranggotakan 175 orang. Asal tahu saja, budak di sini diartikan sebagai anak-anak.

Anggota klub sangat variatif, mulai dari dokter hewan, marinir, mahasiswa, guru, karyawan swasta, pegawai negeri, ustadz, sampai polisi, bahkan ada pula yang masih menunggu pekerjaan mapan. Dalam kumpul anggota, mereka membicarakan segala hal, tetapi kebanyakan berkisar soal Vespa. Dari ajang itulah mereka bertukar info soal suku cadang yang dibutuhkan.

”Ada juga anggota yang dapat pekerjaan dari teman sesama anggota,” papar Herman (30), anggota ISTIM yang membuka bengkel di bilangan Jalan Otista III, Jakarta Timur.

Tak hanya nongkrong dan touring, klub juga melakukan bakti sosial. VOG yang beranggota 120 orang itu, misalnya, akhir Juli mendatang akan mengadakan khitanan massal di Subang, Jawa Barat, sekalian tur.

Klub-klub itu terbentuk dari rasa senasib sepenanggungan sebagai pengguna Vespa. JVC, misalnya, terbentuk dari pengguna yang sering menserviskan Vespa di sebuah bengkel di bilangan Jalan Wijaya, Jakarta Selatan. Mereka kemudian menggagas untuk membuat wadah kegiatan bagi pengendara Vespa. Pada Juni 1985 terbentuklah kemudian Jakarta Vespa Club (JVC).

”Tur pertama kami ke Cibodas diikuti 200 peserta. Setelah pulang tur, beberapa peserta mendirikan klub lain. Sejak itu klub penggemar Vespa bertambah,” kata Roni Rasjidi (48), salah seorang tokoh JVC.

Mereka kebanyakan mengaku jatuh cinta dengan skuter bermerek Vespa karena desain bodi yang dianggap unik, mesin yang praktis, serta ban serep yang mudah dipasang jika ban kempes.

”Buat cewek, Vespa itu asyik. Bodinya seksi” kata Yeti Widianti (27), anggota Brandal Scooter yang mempunyai Vespa tipe Gran Sport (GS) keluaran tahun 1965.

Penggemar Vespa yang tergabung dalam klub-klub itu terkategorikan dalam fokus-fokus berbeda. JVC, misalnya, cenderung pada pemeliharaan Vespa klasik. Klub Sitoracing memfokuskan pada sport termasuk balap I.

Bersaudara

Apa pun fokus kegiatan klub tersebut, mereka punya rasa persaudaraan sesama penggemar. Pada akhir pekan mereka kadang saling berkunjung ke tempat mangkal klub. Ada peraturan tak tertulis yang mengondisikan sesama pencinta untuk saling melambaikan tangan jika berpapasan di jalan meski mereka tidak saling mengenal.

”Kami enggak takut mogok di jalan. Kalau ketemu sesama anggota pasti akan ditolong meski kami enggak saling kenal. Kalau perlu ditarik ke bengkel terdekat,” kata Yudo (27), anggota ISTIM yang menggunakan Vespa tipe Super keluaran 1974 warisan sang eyang.

Yudo menyebut solidaritas antarpencinta skuter itu sebagai scooter brotherhood, persaudaraan antarpengguna. Persaudaraan itu berlaku bagi penggemar skuter di mana pun.

Dengar pengalaman Eko Sulistyanto, Sekretaris Budavest, ketika pada tahun 2000 melakukan tur Jakarta-Malang menuju Bromo. Menjelang malam, Eko dan lima anggota rombongan tiba di Solo, Jawa Tengah.

”Kami disamperin sesama anggota klub. Padahal, kami belum kenal dan belum pernah kontak. Kami diminta menginap di rumah anggota Bengawan Solo Club,” papar Eko tentang sambutan penggemar Vespa di Solo.

”Kalau kami nongkrong, itu sudah seperti saudara. Kami enggak pandang suku atau agama, semua boleh bergabung. Kami bersaudara tanpa gontok-gontokan,” kata Roni.

”Kami bersemboyan, berskuter kami bersaudara,” kata Yudo seperti mewakili semangat berkerabat penggemar skuter.


SAYANG ISTRI, SAYANG ANAK, SAYANG VESPA JUGA ….

Kisah Sang Kolektor

Selain istri dan anak-anak, saya paling sayang sama skuter,” kata Tamrin (57), bapak lima anak yang mengoleksi lebih dari 20 skuter merek Vespa.

Vespa itu ditempatkan di garasi khusus di rumahnya di bilangan Ciracas, Jakarta Timur. Setiap skuter diselimuti kain berwarna cerah. Tersebutlah antara lain Vespa GS (Gran Sport) produksi tahun 1962. Skuter ini terkesan kukuh sentosa karena bodi dicetak tunggal tanpa sambungan (one-piece metal pressing.)

Ada juga Vespa Douglas keluaran tahun 1958. Ini adalah skuter yang dibuat oleh perusahaan Douglas, Inggris, dengan lisensi dari Vespa. Tertua dalam koleksi Tamrin adalah Vespa bikinan tahun 1951. Setang Vespa ini tak beda dengan setang sepeda. Semuanya dalam keadaan kinclong seperti baru keluar dari pabrik.

Vespa itu datang kepada Tamrin dalam keadaan tidak mulus. Dia pernah mendapat Vespa keluaran tahun 1965 dalam kondisi bulukan. Ia trenyuh. Lalu dirawatlah Vespa yang bodi dan mesinnya masih asli. Berbulan-bulan ia memburu aksesori orisinal sesuai dengan tahun kelahiran Vespa tersebut. ”Saya jarang main imitasi. Seluruhnya saya usahakan orisinal,” katanya.

Tamrin memburu Vespa dari berbagai kota di Jawa, seperti Bandung, Purwokerto, Yogyakarta, Semarang, dan Solo. Perburuan sampai juga ke Singkawang, Kalimantan Timur, yang tak lain adalah kampung halaman. Di kota itulah Tamrin jatuh cinta dengan Vespa.

Di Singkawang, pada era 1960-an, kenang Tamrin, pemilik Vespa masih bisa dihitung dengan jari. Pemiliknya kebanyakan pejabat setingkat ketua pengadilan negeri.

”Waktu kecil, saya jarang lihat motor. Waktu pertama kali lihat Vespa saya terkesan sekali dengan bentuknya yang rasanya aneh. Lekuk-lekuknya, bodinya yang bulat itu ada seninya,” kenang Tamrin, kelahiran Singkawang tahun 1948.

Pada tahun 1967 ketika dia sudah bekerja dan mampu membeli kendaraan, dibelilah Vespa keluaran tahun 1965 berwarna biru malam. ”Itu pertama kalinya saya naik motor.”

Tahun 1978 ia hijrah ke Jakarta dan skuter itu ia jual. Belakangan pada tahun 1998—ketika dia sudah jadi pencinta Vespa—diburulah kembali ”kekasih” lamanya itu. ”Saya cari lagi dan ketemu. Vespa itu sudah jatuh ke tangan ketiga.”

Hobi merawat Vespa menurut Tamrin, memerlukan usaha yang sabar, tekun, dan ulet. Skuter bulukan dengan mesin mati, lalu berubah menjadi Vespa mulus, jelas bukan upaya sulap.

Banyak orang yang kemudian melirik hasil ketekunan Tamrin. Mereka membeli, termasuk Mandra, pemain sinetron itu. Harganya memang bisa lebih mahal daripada harga motor keluaran terbaru. Namun, bagi Tamrin, ini bukan urusan angka nominal. ”Ini soal kepuasan batin, susah diungkapkan dan tak bisa diukur dengan uang. Namanya juga kesenangan,” katanya. (XAR)


KILAS HOBI

“Sembra Una Vespa”

Syahdan, Rinaldo Piaggio mendirikan pabrik Piaggio pada tahun 1884 di Sestri Ponente, Genoa, Italia. Awalnya Piaggio memproduksi perlengkapan kapal, kemudian kereta. Tahun 1915 Piaggio mulai memproduksi pesawat terbang. Sepeninggal Rinaldo pada tahun 1938, Enrico Piaggio, anaknya, melanjutkan usaha.

Saat Perang Dunia II, Italia mengalami krisis transportasi publik. Bahan bakar terbatas dan harga mobil mahal. Piaggio lalu merancang moda angkutan yang murah, irit bahan bakar, praktis, lincah, serta dapat digunakan lelaki dan perempuan.

Tahun 1946 mereka memperkenalkan skuter. Perancang skuter memperkenalkan konsep desain kepada Enrico Piaggio. Dia berkomentar spontan. ”Sembra una vespa —kelihatannya kayak tawon!” Vespa dalam bahasa Italia berarti tawon. Sejak itu skuter bikinan Piaggio itu disebut Vespa. (XAR)

Hikayat Skuter

Scooter berasal dari scoot yang artinya berlari kencang. Etimologi kata scoot berasal dari bahasa Skandinavia skjOta yang artinya menembak. Scooter, oleh kamus Webster dijelaskan sebagai kendaraan roda untuk anak-anak yang di sini dikenal sebagai otopet.

Terdapat jenis scooter dorong (push scooter) alias otopet dan motor scooter. Skuter adalah jenis kendaraan bermotor roda dua di mana pengendara duduk tanpa harus mengangkangi mesin.

Vespa diproduksi pada tahun 1946. Pada tahun 1947 perusahaan Inocentti, Italia, memproduksi skuter Lambretta. Skuter Lambretta sempat populer di Indonesia pada pertengahan era 1960-an. Lambretta tak berumur lama karena Inocentti bangkrut tahun 1970. Pada era 1980-an, Yamaha dan Honda mulai memproduksi jenis skuter. (XAR)


Waktu sercing di Kompas juga sempet nemu brita ini

Slank, Konvoi Scooter untuk Perdamaian

Gambarnya aku pake untuk hiasan judul di atas

Gak ada kata ’damai’ sebelum kita melakukan ’gerakan’ menuju… jalan damai,” itu bunyi pesan perdamaian yang digelindingkan oleh grup Slank dalam rangka tur Road to Peace mereka bersama grup Naif yang digelar oleh A Mild Production pada Januari hingga Maret lalu di 24 kota Indonesia. Kalimat tersebut dipajang pula oleh Slank pada sampul album live baru mereka yang juga berjudul Road to Peace.

Untuk kesekian kalinya grup dalam negeri berakar rock n’ roll itu mengumandangkan pesan perdamaian. Dalam rangka peluncuran album itu, serangkaian acara berbau properdamaian diadakan oleh Slank dan A Mild Production pada Kamis (13/5), sejak pukul 11.00 hingga pukul 14.00 WIB, di Jakarta. Sebelum jumpa pers dan konser kecil di Museum Nasional (Jakpus), digelar dulu konvoi scooter serta penandatanganan plakat oleh sejumlah tokoh dan pelepasan sejumlah burung merpati putih tanda perdamaian.

“Untuk peluncuran album, kami selalu ingin sesuatu yang berbeda, enggak cuma jumpa pers di kafe. Makanya, kami bersama A Mild Production (yang bekerja sama dengan Slank merilis album Road to Peace) mengonsep acara seperti ini,” jelas Kaka, vokalis Slank, kepada para wartawan.

“Sesuai judul Road to Peace, kami ingin ada sesuatu yang berhubungan dengan jalanan dan perjalanan. Makanya, kami bikin konvoi kendaraan bermotor,” lanjut Kaka. Mereka memilih scooter karena unik dan klasik serta bercitra kelas menengah-bawah, dari mana kebanyakan penggemar Slank alias Slanker berasal.

Konvoi scooter dari Senayan (Jakpus) ke Museum Nasional, yang dimulai pada pukul 11.00 WIB dan memakan waktu kira-kira setengah jam, diikuti oleh 36 sepeda motor berjulukan Si Semok itu. Empat dari lima personel Slank, yaitu Kaka, Abdee (gitar), Ridho (gitar), dan Ivanka (bas), ikut. Satu lagi, Bimbim (drum), tidak bisa hadir. “Lagi demam, kecapean,” terang manajer Slank, Iffet Sidharta, yang akrab dipanggil Bunda, kepada KCM.

Abdee, Ridho, dan Ivanka mengendarai sendiri sepeda-sepeda motor pinjaman dari peserta-peserta lain, sedangkan Kaka memilih membonceng peserta yang lain lagi. Mereka diiringi oleh para anggota tujuh klub pecinta scooter se-Jakarta dan sekitarnya, yaitu Budavest (Budak Vespa Tangerang), Vespa Indonesia Online, Scooter Indonesia, Jakarta Vespa Club, Bekasi Independent Scooter, Scooter Owner Group, dan Family Independent Scooter.

Sampai di Museum Nasional, Slank langsung menjalani acara penandatanganan plakat oleh Mar’ie Muhammad (Ketua Palang Merah Indonesia), Saparinah Sadli (anggota Komnas Perempuan), Putu Wijaya (budayawan yang tak jarang membawa pesan perdamaian lewat karya-karyanya), dan pianis Henrietta Noveria Embut, keponakan Mochtar Embut, pencipta lagu Mars Pemilu yang disajikan oleh Slank dalam album Road to Peace dengan aransemen baru. Bersama Slank mereka lalu melepas burung-burung merpati putih.

Kaka menekankan bahwa Slank tak akan bosan-bosan menularkan virus perdamaian. “Kami punya banyak penggemar. Mereka, generasi muda, harus ditulari yang baik-baik,” tutur Kaka kepada pers. “Indonesia masih membutuhkan gerakan-gerakan untuk mewujudkan perdamaian,” sambungnya.

Kegiatan properdamaian Slank kali ini, kata Ridho, merupakan kelanjutan dari aktivitas-aktivitas mereka semacam sebelumnya. Selain itu, “Ada kaitannya dengan Pemilu 2004, kami ingin presiden kita yang terpilih nanti bisa mendamaikan Indonesia seperti di Ambon, Aceh, dan lain-lain,” tambahnya. (Ati)

Klo besuk istriku aku poligami dengan banyak vespa, cemburukah ?

Next Page »